Sabtu, 14 November 2015

Cinta setipis KEYAKINAN


Karya: Zulfa Nur Widowati

Sebuah ruang kelas berbentuk persegi panjang dengan bercat dinding berwarna cream tampak sudah dipenuhi sebagian murid sma yang sepertinya akan dimulai suatu rapat. Sebuah pintu kelas yang berbentuk layaknya pintu kantor terbuka sangat lebar. Kaki ini mulai berjalan mendekatinya sambil menggendong tas berwarna merah. Suara bising murid dari ruang kelas tersebut membuat hati ini menjadi dag dig dug.
“Apakah rapatnya sudah dimulai?” Batinku sambil menundukkan kepala sambil berjalan karena benar-benar takut jika sudah dimulai. Wus… angin berhembus seketika, membuat jilbab segiempat putihku tidak rapi.
“Angin hari ini benar-benar kencang tak seperti biasanya. Pertanda akan turun hujankah? Langit juga tampak sedikit berubah. Ah sudahlah.” Ucapku pelan sambil membenarkan jilbabku yang sedikit tidak rapi.
“Zaskia….Zaskia. Mana Zaskia?”
Sebuah suara yang mengagetkanku dari dalam kelas. Entah suara ketua organisasi atau anggota yang lain. Aku bergegas menuju ke dalam kelas.
“Assalamualaikum.” Ucapku  sambil mengetok pintu.
“Waalaikumsalam.” Jawab semua orang yang ada di ruangan.
“Darimana saja kamu?” Tanya ketua organisasiku sambil melihat daftar absen di tangannya.
“Maaf Al, saya tadi ada kerja kelompok.” Ucapku sedikit takut.
“Besok lagi izin dulu kalau datang rapatnya telat bisa lewat sms atau titip pesan kepada temanmu. Kamu sudah kelas xi harusnya bisa memberi contoh kepada adik kelasmu. Satu orang membuat semua jadi korban. Kalau kamu begini terus bagaimana hasil organisasi kedepannya nanti? Organisasi ini hanya butuh orang-orang yang disiplin dalam segala hal, tidak lemot seperti kamu yang sudah telat setengah jam.” Jelas Alfaro sambil memarahiku.
“Iya Al, maaf tadi saya lupa izin karena terburu-buru harus ke rumah teman dan kebetulan handphone saya lowbatt. Sekali lagi saya minta maaf ya Al dan semua yang ada di ruang ini. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi. ” Jelasku dengan perasaan merasa bersalah.
“Terserah apapun alasanmu. Yang saya inginkan hanya kedisiplinan. Yasudah, sana duduk di bangku yang kosong!!” Pinta Alfaro dengan muka tak enak dipandang.
“Iya Al, terimakasih.” Ucapku menundukkan kepala.
Di organisasi yang aku ikuti yaitu MPK (Majelis Permusyawaratan Kelas) memiliki aturan yang sangat ketat dan disiplin. Jadi, jika aturan tersebut dilanggar, pasti akan terkena marah dari ketua. Dan tampaknya di pojok belakang masih ada satu bangku yang tersisa. Lantas, aku duduk disana. Sembari melepaskan tasku, Alfaro mulai memberikan pengarahan di depan tentang Proker terbaru yaitu aspirasi.
“Teman-teman, sebelumnya apa teman-teman sudah ada yang memiliki konsep untuk aspirasi MPK? Boleh angkat tangan. Jika tidak ada, saya persilahkan komisi c untuk berunding dan menjelaskan bagaimana konsepnya nanti.”
“Wah, aspirasi. Prokerku nih.” Batinku.
Setelah mendapat pengarahan tentang aspirasi, kita berkumpul dengan komisi masing-masing. Ya, di MPK ada 4 komisi yang memiliki tugas masing-masing. Dulu, waktu kelas x aku berada di komisi c dan sekarang pun masih setia dengan komisi c. Anggota dan proker komisi c seakan seperti bagian dari hidupku. Sayangnya, anggota komisi c ada yang berpindah ke bidang dan komisi lain. Dan teman dekatku pindah di komisi d. Sedih sih, tapi no problem.
Tak lama kemudian, koordinator komisi c dipanggil ketua untuk menghadap kepadanya. Aku dan anggota yang lain sibuk bersenda gurau namun masih berkaitan tentang proker aspirasi.
“Eh Zas, mau aspirasi apa nih? Paling-paling juga J-POP. Ya kan??” Canda Brian.
“Enggaklah. Masak iya aspirasi tentang J-POP. Jepang festival bukan aspirasi keles. Emang kamu??” Balasku dengan candaan sengit.
“Hahaha… jangan marah. Aku cuman bercanda kok.” Jelas Brian sambil menampakkan mukanya yang seperti tak berdosa.
“Iya, santai ajalah. Aku enggak ngambekan kayak kamu ya.” Ucapku sambil menyindir.
“Hah, emang aku ngambekan?” Tanya Brian.
“Menurutmu? Sudahlah, aku ingin fokus dulu sama proker komisiku. Bye…” Jelasku dengan nada kesal.
“Iya deh, semangat ya Zas aspirasinya.” Kata Brian sambil memberiku semangat.
“Iya, semangat kok. Apalagi sekarang nggak ada kamu. Tambah fokus dan semangat. Seperti semangatnya para pejuang 45.” Ucapku dengan optimis.
“Hahahaha..apa iya? okey deh kalau gitu.” Katanya cengengesan.
Andaikan Brian tahu bahwa tanpanya aku bingung bagaimana proker aspirasi ini supaya bisa berjalan dengan baik. Aku mengakui bahwa Brian memang pintar dalam menjalankan Proker supaya sukses. Dan anggota komisi c sekarang, hanya aku yang masih bertahan. Lainnya sudah pindah ke bidanglain. Tapi sudahlah, aku harus bisa mencobanya dengan teman sekomisiku walau tanpa seorang Brian.
“Hai guys, ayo mulai bahas proker kita supaya bisa berjalan lancar. Lalu, apa konsep yang akan kita buat. Setelah itu, kita presentasikan. Ayo guys semangat.” Jelas Ayu koordinator komisiku sambil menyemangati kita.
“Siap komandan.” Ucap komisi c serentak.
Suasana berubah menjadi serius. Karena pembahasan proker masing-masing komisi mulai dikerjakan. Walaupun yang paling mendekati aspirasi, tapi bisalah dicicil.Tak heran jika raut wajah ketua bisa tersenyum berseri-seri, tak marah-marah seperti tadi. Kuncinya adalah semua anggota bisa bekerja dengan baik. Baru kali ini melihat Alfaro tersenyum bahagia. Biasanya yang menghiasi raut wajahnya hanya cemberut. Aku yang berada di pojok sudut ruangan merasa bahagia melihatnya.
Di sisi lain, aku memperhatikan Brian yang terlihat sibuk dengan komisinya. Maklum, dia koordinator komisi d. Brian memulai pengakraban dengan anggotanya dan persis seperti pertama kali aku mengenalnya. aku teringat dimana ketika kita masih satu komisi. Awalnya memang masih saling canggung, namun pada akhirnya kecanggungan itu berubah menjadi sebuah kenyamanan layaknya seorang sahabat. Sebuah proker yang membuat kecanggungan perlahan menjadi hilang. Dan kebetulan proker yang dikerjakan membuatku dan Brian selalu bersama. Karena kita selalu mendapat tugas yang sama.
“Hey Zas, jangan melamun. Ada usulan untuk konsep aspirasi enggak?” Tanya Ayu yang duduk disampingku.
“Ha? Gimana yu?” Tanyaku kurang jelas.
“Makanya, jangan suka melamun. Kamu liat ke arah komisi d kenapa sih? Liat Brian?” Tanya Ayu balik.
“Enggak yu. Hanya melihat kayaknya komisi d kompak. Padahal, baru saja perekrutan anggota. Semoga komisi c bisa seperti itu.” Jelasku sambil membayangkan.
“Iya, Aamiin. Okey, fokus lagi yuk. Sekarang aku tanya, ada usulan untuk konsep aspirasi enggak?”
“Kalau menurutku, konsepnya seperti tahun kemarin saja. Hanya aspeknya yang diubah.” Jelasku sambil menerangkan konsep apa yang harus ada.
“Okey, makasih. Gimana teman-teman, apa kalian setuju dengan pendapat Zaskia?” Tanya Ayu di forum.
“Setuju.” Jawab komisi c serempak.
Aku mengambil laptop dari tasku lantas bergegas mengetik konsep aspirasi yang telah disetujui dan akan dipresentasikan sebentar lagi. Ketika mata ini masih menatap laptop dan jari ini masih mengetik abjad di keyboard, tiba-tiba Alma koordinator komisi b memanggilku dari sudut pintu.
“Zaskia…”
“Iya, apa?” jawabku masih fokus dengan laptopku.
“Brian nakal. Masak dia ngece aku.”
“Emang ngece gimana?” Tanyaku yang pandanganku tetap saja di laptop.
“Masak dia bilang kalau aku pacarnya Ivan.”
“Ivan yang mana sih?”
“Anak kelas x, satu komisi dengan Brian.” Kata Alma yang sepertinya kesal. Karena aku hanya sekilas menatap Alma, pandanganku masih fokus ke laptop.
“Oalah. Yaudah, cuekin saja si Brian. Emang wataknya gitu, suka jail sama orang. Hiraukan saja, biarlah dia ngece sampai secapeknya dia. Kalau capek pasti juga berhenti.” Jelasku sembari mengetik.
“Hey Zas, liat aku. Jangan ke laptop terus. Istirahat bentar gitu lho, jangan terlalu serius.” Ucap Alma kesal.
“Aduh, apa kamu nggak liat proker komisiku yang sebentar lagi disuruh presentasi di depan sama Alfaro. Bentar ya, aku selesaikan pekerjaan ini. Kalau sudah, kamu boleh curhat sesuka hatimu.” Kataku sambil menghentikan jari-jari ini mengetik.
“Okey deh.” Ucap Alma kecewa. Sebenarnya sedih melihat Alma kecewa, tapi bagaimana lagi sekarang ini proker lebih penting daripada curhatan Alma.
Aku mengintip dari balikgorden ternyata langit diluar mulai mendung. Dan hanya tersisa beberapa motor yang tampak di parkiran. Sudah jarang siswa dan guru yang terlihat. Hanya tersisa perkumpulan organisasi saja. Sekolah sudah tampak sepi. Aku melihat jam dinding ternyata sudah pukul 16.30 wib. Pantas saja jika sekolah sudah mulai sepi.
“Oke teman-teman biar mempercepat waktu pulang, maka komisi c dipersilahkan maju untuk menyampaikan konsep aspirasi minggu depan.” Seru Alfaro yang berdiri di depan kelas.
“Gimana Zas, sudah selesai kan?” Tanya Ayu sambil bersiap-siap berdiri.
“Sudah. Yang menerangkan di depan kamu ya.” Jawabku sambil memberikan laptop kepadanya.
Ketika Ayu mulai menerangkan di depan, pikiran ini seakan kembali ke masa lalu. Dulu, Brian yang maju ke depan dan menjelaskan kepada semuanya dengan candaannya yang khas. Entah mengapa, pikiran dan hati ini masih saja terbayang-bayang oleh sosok Brian. Kepergianmu dari komisi c membuat hidup ini seperti kiamat kecil. Kehilangan, itulah yang kurasakan saat ini. Padahal, hanya berpindah komisi saja. Ada apa dengan diriku ini?
“Okey, terimakasih presentasi dari saya. Kurang lebihnya mohon maaf. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.” Ucap Ayu di depan kelas.
Dan sebuah salam mengingatkanku lagi dengan Brian. Aku tidak pernah menjawab ucapan salam darinya. Agama yang berbeda adalah penyebabnya. Walaupun begitu, dia tetap mengucapkan salam dengan tujuan untuk saling menghormati. Jujur, aku begitu kagum dengannya.
“Hey Zas, makasih ya laptopnya. Nih laptopnya.” Celetuk Ayu tiba-tiba sambil memberikan laptop.
“Oh iya, sama-sama.” Balasku dengan senyuman sambil menerima laptop dan memasukkannya kedalam tas.
Setelah presentasi selesai, Alfaro sudah mengizinkan kita untuk pulang ke rumah masing-masing. Aku pun bergegas pulang dengan sepeda motorku yang berada di parkiran dan tak memperdulikan anggota MPK yang lain.
“Zas, tunggu aku.” Seru Brian dari belakang.
“Cepetan, keburu hujan.” Ucapku menunggu Brian.
“Kamu mau ke parkiran kan?” Tanyanya sambil jalan.
“Iya.” Balasku singkat.
“Okey, sama kalau gitu.” Ucapnya lagi.
Kita berjalan berdua menuju ke tempat parkir. Suasana di tempat parkir begitu gelap karena ditutupi atap yang terbuat dari seng.
“Zas, jangan tinggal aku. Tunggu aku.” Seru Brian dari motornya. Motor Brian berada di paling ujung, sedangkan motorku berada dekat pintu keluar.
“Iya, bawel amat sih. Kamu takut ya?” Cetusku sambil mengejek bercanda.
“Enggak, aku berani. Supaya ada teman saja.” Katanya ngeles.
“Bohong. Cepetan, nanti keburu hujan. Langitnya sudah mendung lho.” Jelasku yang sudah bersiap menuju pintu keluar.
“Iya, sabar dikit.” Ucapnya dengan  mengendarai motor lakinya menuju ke arahku.
“Yuk, berangkat.” Ajakku sambil mengegas motor maticku.
Ketika sudah di depan gerbang sekolah, kita memisahkan diri masing-masing karena arah rumah kita berbeda. Aku ke kanan dan Brian ke kiri.
Keesokan harinya, ketika aku memasuki ruang kelasku ada seorang temanku  Melly menyeletuk.
“Cie, yang kemarin pulangnya bareng sama Brian. Jadian ya? Pajaknya dong.”
“Ha? Kamu ngomong apa sih? Aku enggak paham.” Ucapku kebingungan.
Aku meninggalkan seorang temanku yang mengejekku ke bangku kosong yang berada di pojok sudut ruangan kelasku. Baru saja aku menaruh tas, tiba-tiba ada yang menyeletuk lagi.
“Cie.. Brian. Kamu kok enggak bilang-bilang kalau jadian sih Zas?” celetuk Cita teman sebangkuku.
“Eh, bentar deh. Kok kamu bisa bilang begitu? Siapa juga yang jadian, jangan ngarang cerita.” Tanyaku penasaran.
“Aku dan Melly kemarin lihat kamu dan Brian pulang bareng. Pokoknya kelihatan mesra gitu.” Jelas Cita sambil mengerjakan pr matematika.
“Bentar deh Cit, kayaknya kamu dan Melly salah paham. Aku enggak jadian. Lagipula, pulang bareng itu gara-gara si Brian minta ditungguin. Takut katanya. Lagipula juga kita habis rapat MPK kok. Ya apa salah?” Jelasku sambil menatap wajah Cita yang tiba-tiba berhenti mengerjakan pr matematikanya.
“Oh gitu, okey.” Kata Cita singkat.
“Hmmm…” Ucapku cuek.
Entah kenapa, perasaan hari ini begitu badmood. Udah kemarin capek, ditambah aku dibilang jadian sama Brian. Dan baru saja masuk kelas sudah ada 2 teman yang mengejekku “Brian, Brian” dan ditambah lagi sekarang hampir teman-teman sekelasku baik cowok maupun cewek. Ya Tuhan, cobaan apa lagi yang kau berikan padaku?
Hari demi hari, ejekan yang diberikan teman sekelas kepadaku selalu saja datang.Aku tak mengerti dimana hati nurani mereka. Hanya satu orang yang tak mengejekku. Ya, itu adalah Tia sahabat baikku yang aku kenal dari awal sma. Aku curhat dengannya tentang apa yang terjadi sekarang ini terhadap diriku. Dan sebuah jam kosong hari ini, membuatku ingin curhat dengan Tia.
“Tia, apa yang kamu lakukan ketika diejek temanmu bahwa kamu suka dan bahkan jadian dengan teman rapatmu? Bagaimana perasaanmu?” Tanyaku dengan muka kesal.
“Kalau aku jadi kamu, diam adalah jurus terbaik. Kalau masih kesal, sholat lalu mengaji sama istighfar sebanyak-banyaknya. Kalau masih, kamu bisa tulis masalah yang terjadi di diarymu dan biasanya aku teriak di tempat yang begitu luas dan sepi seperti sawah.” Jelas Tia sambil menasehatiku.
Mendengar nasehat dari Tia, aku mulai mencobanya. Aku bergegas menuju masjid. Ketika baru keluar dari kelas, rupanya Brian berada di depan kelasku. Dia terlihat sibuk dengan laptopnya. Ingin rasanya bertanya apa yang sedang dikerjakan, tapi seorang temanku tiba-tiba menyeletuk dengan wajah tanpa berdosa.
“Brian, Zaskia suka kamu.” Celetuk Bayu di dekat Brian. Betapa malunya diri ini yang mendengar celetukan itu. Lantas, aku menuju ke masjid tanpa memperdulikan apa yang telah terjadi.
Setelah sholat, hati ini menjadi lebih tenang. Tak ada kerisauan lagi yang muncul. Benar-benar damai layaknya seorang bayi yang tak mengerti apa itu sebuah masalah. Setelah itu, aku kembali ke kelas. Ketika mendekati kelas, aku melihat bahwa Brian masih duduk di bangku depan kelasku. Ingin rasanya menyapa, tapi teman-temanku  mulutnya benar-benar seperti sempritan tukang parkir. Aku belum sampai di depan kelas saja sudah banyak yang mengece. “Cie Brian. Dicari Zaskia lho.”
Akhirnya, aku berusaha tak peduli dengan keberadaan Brian dan langsung masuk kelas.Ketika mata ini memandang Brian dari pojok sudut ruang, Perasaan dalam hati ini seolah mengatakan bahwa ada sesuatu yang aneh dengan diriku terhadap Brian.
“Pak Guru Datang.” Teriak temanku dari luar sambil menutup pintu kelas.
“Zas, Brianmu diluar Zas. Kamu enggak temani dia?” Tanya Bayu yang duduk didepanku.
“Enggak.” Jawabku cuek.
Ketika perasaan kesal sudah aku buang, sekarang muncul lagi gara-gara Bayu. Bayu memang teman yang jahat. Tak bisa jaga mulutnya yang seperti cabe kalau ngomong.
“Sabar Zas.Sudah, hiraukan saja. Tidak ada gunanya menanggapi. Lagipula, kamu juga enggak suka. Jadi, biasa saja. Setelah hujan selalu ada pelangi. Setelah luka pasti ada bahagia. Semua akan indah pada waktunya kok Zas.” Jelas Tia yang duduknya sebelah kiriku sambil menenangkanku.
“Anak-anak, hari ini ulangan biologi.” Seru Pak Yusuf yang berdiri di depan.
“Yah pak, belum siap. Lagipula, bapak memberitahunya ndadak sekali.” Kata Bayu sambil mengeles kesana kemari.
“Pokoknya hari ini ulangan. Tidak ada alasan.” Pinta Pak Yusuf sambil membagikan soal yang berada di tangannya.
“Baik pak.” Jawab anak-anak kelasku serempak.
“Zas, nanti kasih tahu jawabannya ya.” Bisik Bayu kepadaku.
“Nggak mau.” Ujarku kesal.
“Hih, dasar Brian.” Balasnya.
“Bisa diam enggak sih?” Ucapku dengan nada marah.
Ketika ulangan dimulai, suasana kelas begitu hening. Tidak ada kegaduhan sama sekali. Yang ada hanya suara air conditioner. Pak Yusuf yang sedari tadi duduk di depan, sekarang malah keluar entah kemana. Itu adalah kesempatan emas buat anak yang suka mencontek, khususnya Bayu. Dan benar sekali, Bayu langsung bertanya kepada teman di ruang kelas. Tapi, tak ada yang menjawab pertanyaan Bayu. Ketika Pak Yusuf masuk ke kelas, Bayu langsung terdiam seperti sebuah pintu yang sudah terkunci rapat.
Teet….Teet…Teet Bel pulang sekolah berbunyi. Ulangan biologi langsung aku kumpulkan lantas aku keluar dari kelas. Dan disusul temanku yang juga sudah selesai sepertiku. Ketika sedang duduk santai di depan kelas, batang hidung Bayu tiba-tiba muncul dan mengagetiku.
“Tumben sudah keluar, biasanya juga terakhir sendiri.” Ucapku sedikit sengit.
“Memang terakhir. Lagipula, sudah tidak ada orang lagi di dalam kelas.” Jelasnya sambil melirik mata kekanan dan kekiri melihat suasana sekitar.
“Kamu cari siapa Bay?” Tanyaku penasaran.
“Cari Brian. Aku mau nembung biar kamu jadi pacarnya.” Ucapnya cengengesan. Kaget bukan main mendengar penjelasan dari Bayu. Aku langsung memarahinya dan mencegahnya untuk menemui Brian.
“Jangan Bay!!!” Pintaku sambil memukulnya.
“Yasudah, kalau begitu aku akan mengintrogasi kamu. Kalau tidak, aku akan menemui Brian. Gimana?” Ucapnya lagi dengan sikap yang menantang.
“Okey, siap. Kamu mau mengintrogasi apa?” Tanyaku sambil duduk di depan kelas berdua.
“Apa hubunganmu dengan Brian?”
“Ya Allah, kita hanya sebatas teman saja, enggak lebih. Lagipula, kita teman satu organisasi dan pesan dari pembina jangan pernah ada yang namanya cinta lokasi karena membuat proker organsasi tidak berjalan dengan lancar. Jadi aku enggak mungkin pacaran.” Jelasku sambil menatap wajahnya yang masih misterius karena penasaran hubunganku dengan Brian.
“Apakah kamu ada rasa suka dengan Brian?” Tanyanya lagi.
“Aduh, pertanyaanmu enggak penting dijawab. Kan tadi aku sudah jelaskan bahwa satu organisasi tidak boleh yang namanya cinta lokasi. Sudahlah, aku mau Sholat Dhuhur dulu.” Jelasku sedikit kesal.
“Sholat? Aku mengimami kamu ya. Enggak mungkin kan kalau Brian yang mengimami. Brian kan Kristen, tidak bisa jadi imam untukmu Zas. Lebih baik, suka yang seagama saja supaya bisa mengimami kamu .” Jelas Bayu balik sambil menatapku dengan tatapan tajam.
“Kamu itu kenapa dari tadi protes saja? Dibilangin hanya teman kok enggak lebih. Aku juga enggak suka dengan Brian. Imam? Semua orang bisa ngomong gitu karena ngomong itu mudah sedangkan melakukan itu berat. Paham enggak? Sudahlah, aku mau sholat dulu.” Jelasku marah dengan membawa mukena merahku sambil perlahan meninggalkan Bayu di depan kelas sendirian. Seusai sholat, aku dipanggil Tia dari lapangan basket yang tak jauh dari masjid.
“Zaskia.”
“Iya, ada apa ya?” Tanyaku dengan suara agak keras.
“Bisa ke bawah sebentar enggak?” Pinta Tia.
“Oh iya, tunggu sebentar.” Jawabku sambil memakai sepatu. Aku bergegas turun menuju ke lapangan basket sambil membawa mukena merahku.
“Begini Zas, aku bisa minta tolong enggak?” Tanya Tia yang sepertinya butuh bantuanku.
“Iya. Selagi aku bisa membantu pasti aku bantu.” Ucapku sambil memegang pundak Tia.
“Hari ini ekstrakurikulerku Basket, mau foto kalender. Kira-kira kamu bisa memfoto enggak? Kan kamu ikut fotografer. Kamu juga di kelas ada kamera kan. Plis ya.” Pinta Tia seperti orang memohon.
“Iya deh. Jam berapa?” Ucapku sambil melihat jam.
“Jam 14.00 wib. Bisa kan?” Tanya Tia sambil melihat jadwal basketnya.
“Jam segitu ya? Aku ada acara. Gimana kalau Brian? Teman fotograferku. Dia lebih jago dalam hal memfoto daripada aku.”
“Halah. Yaudah enggak apa-apa.” Jawab Tia sedikit kecewa.
“Maaf banget ya. Bentar, aku telepon Brian dulu. Eh enggak diangkat. Bentar, coba aku sms.” Ucapku sambil mencoba menelepon dan mengirim pesan.
“Okey. Aku tunggu ya.” Ucap Tia mempercayakan kepadaku.
“Eh, enggak dibalas smsku. Gimana kalau ke ruang organisasinya? Kamu tahu kan?” Tanyaku dengan muka kecewa.
“Oh, okey. Aku enggak tahu ruangannya. Nanti tanya saja.” Jelas Tia singkat.
Kita berjalan menyusuri gedung sekolahan, hingga akhirnya bertemu dibawah pohon beringin depan masjid.
“Brian.” Panggilku sambil melambaikan tangan.
“Apa?” Tanyanya sambil membawa buku agamanya.
“Tadi kamu aku telepon enggak ngangkat, terus aku sms enggak dibales. Jadi gini, ekstra basket putri mau foto untuk kalender. Nah, awalnya aku disuruh fotoin, tapi aku ada acara. Aku minta tolong kamu buat memfoto tim basket putri bisa enggak?” Tanyaku dengan penjelasan yang kiranya bisa merayu Brian.
“Aku enggak bisa!!! Aku ada acara. Kalau kamu mau, izin dulu ke bapakku!!!” Ucapnya dengan nada menggertak. Aku langsung terdiam menundukkan kepala karena malunya diri ini. Dan kata-kata yang dilontarkan Brian tersebut, membuatku tiba-tiba mengeluarkan air mata. Hati ini seakan teriris pisau yang begitu tajam. Hanya sabar yang bisa aku lakukan sekarang ini. Karena kesabaran adalah kunci segalanya.
Tak biasanya Brian ngomong dengan nada menggertak seperti itu. Brian yang kukenal bukan seperti itu. Brian yang kukenal adalah Brian yang humoris, yang lemah lembut terhadap cewek, dan sabar. Benar jika pepatah mengatakan bahwa hati perempuan bagaikan baja karena perempuan lebih tangguh, lebih kuat dan lebih mandiri.
Brian lalu pergi meninggalkanku dengan Tia begitu saja. Lantas, aku menarik Tia ke perpus untuk menenangkan diri ini sejenak. Aku tak sanggup jika nanti bertemu Brian lagi. Emosiku mulai memuncak, namun aku berusaha untuk meredamnya dengan istighfar.
“Tenangkan dirimu dulu Zas. Nangis aja jika itu yang kau rasakan.” Lontar Tia menenangkanku.
“Iya Ti.” Ucapku lirih.
Walaupun pikiran dan hati ini sudah mulai tenang, namun luka yang membekas di hati belum bisa hilang. Masih tetap tergores hingga membekas. Sebuah persahabatan yang sudah kujalin satu setengah tahun dengan Brian kandas begitu saja karena sebuah permasalahan sepele.  Dan tidak hanya itu semua karena Bayu. Ya, dia membuat semua menjadi berantakan. Persahabatan ini yang awalnya damai, baik-baik saja berubah menjadi buruk. Hanya karena sebuah ejekan tentang perasaan yang dilontarkan Bayu ke persahabatanku dengan Brian. Dan sekarang kandas begitu saja. Namun, Tia mengingatkanku akan sebuah nasehat.
Jangan pernah menyalahkan orang lain atau menyalahkan situasi untuk ketidakberesan kita menyelesaikan tugas. Bercerminlah pada diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain Zas. Mungkin saja, Brian marah karena banyak persoalan yang harus digarap. Berpikiran positif aja Zas.” Jelas Tia sambil memelukku.
“Ti, aku butuh waktu sendiri. Aku mau pergi ke sawah sebentar ya.” Kataku sambil meneteskan air mata.
“Aku temenin ya Zas.” Tanya Tia khawatir.
“Enggak usah, aku baru butuh waktu sendiri.” Jawabku sambil menghapus air mata dengan tissue yang ada di perpus.
Aku langsung lari menuju sawah dekat sekolah dengan membawa diary kecilku. Sudah tak memperdulikan dengan lingkungan sekitar. Di gubug ini, aku benar-benar seorang diri. Tak ada siapapun. Sawah yang berwarna hijau membuat mata segar kembali untuk melihat dunia fana. Udara semilir yang selalu berhembus, membuat hati ini menjadi lebih sejuk. Pikiran panasku ini, aku tuangkan dengan teriak dan menulis diary.
Dear Diary
Hari ini, aku benar-benar kesal. Entah mengapa sulit rasanya untuk hidup dalam cobaan seperti ini. Tiba-tiba dituduh bahwa aku berpacaran dengan Brian. Jujur, aku tidak ada hubungan special dengannya. Hanya sebatas teman dekat hubungan kita tak lebih. Dan sebenarnya, pernyataan yang aku jelaskan ke Bayu tak semuanya aku jelaskan. Secara terang-terangan, aku tak pernah bilang suka, namun selalu kutunjukkan rasa. Entah lewat sentuhan, perhatian, dan caraku membangun percakapan dengan Brian. Aku menyukainya. Terlalu menyukainya. Sampai-sampai aku tak sadar bahwa kedekatan kita semakin tak terkendalikan, meskipun semua singkat, tapi rasanya suka begitu terburu-buru mengetuk pintu hatiku. Dan perasaan ini sangat dalam sehingga aku memilih untuk memendam.
Indah memang, suka mengubah segala yang hitam putih menjadi warna-warni. Tumpukan kebahagiaan semakin sempurna. Namun, ada yang mengganjal kesukaanku padanya. Agama. Agamaku dengan Brian yang membuatku sedikit janggal untuk menyukainya. Jatuh cinta yang beda agama itu rasanya sakit. Dan beberapa hari ini, aku tak pernah menyapanya ketika bertemu. Hanya diam dan lewat begitu saja yang aku lakukan. Apakah kau tahu bahwa aku merindukanmu? Aku rindu kau menungguku di luar masjid ketika aku sholat, aku rindu menunggumu di depan gereja seusai misa pagi, aku rindu tertawa bersama, makan mie ayam bersama, dan nonton festival bersama. Sungguh, aku sangat merindukan semua itu. Setiap detik tanpa hadirnya kau, rasanya separuh hidupku hilang. Tapi, aku hanyalah seorang teman wanita yang tak berdaya. Yang tak bisa mengubah agamamu menjadi muslim. Aku mengenalmu sebagai sosok yang sangat gigih. Kamu juga mengenalku sebagai sosok yang tegar. Selama kita bersama, tidak pernah terlihat air mata kita jatuh setitikpun. Tapi... ternyata pada akhirnya aku menyerah, menyerah pada takdir yang awalnya mempertemukan kita juga yang memisahkan kita. Hatiku patah. sayap-sayapku yang dulu sempat memelukmu juga patah.  Apakah ada tangis yang luruh dari matamu yang indah? Aku tak tahu mengapa sekarang kau berbeda. Kau bukan Brian yang kukenali.
Dulu perkenalanku denganmu begitu pahit tak seperti yang kubayangkan. Kadang aku tak memahami tentang sebuah perkenalan. Perkenalan yang sederhana namun mampu membawa ku kedalam masalah yang rumit. Entah darimana asalnya, rasa yang aneh mulai muncul. Semenjak rasa itu ada, tak ku sadari telah mengubahku menjadi sosok yang posesif terhadapmu. Aku yang tadinya biasa saja, aku yang tak menganggap kehadiranmu ada. Berubah menjadi aku yang sangat luar biasa terhadapmu. Aku yang selalu menginginkan kehadiranmu. Tak sampai disitu, aku seperti tak lagi mengenali diriku sendiri. Harus ku akui kau mulai mengubah diriku yang dulu, bahkan kau juga telah mampu melelehkan hatiku. Aku tak mengerti dengan semuanya, yang aku tau sekarang aku sangat takut kehilanganmu. Tuhan, jika aku bisa langsung meminta pada Tuhan, aku tak ingin perkenalan kita terjadi. Aku tak ingin mendengar suaramu ketika menyebutkan nama. Aku tak ingin membaca pesan singkatmu yang lugu tapi manis. Sungguh, aku tak ingin segala hal manis itu terjadi jika pada akhirnya kamu menghempaskan aku sekeji ini.
Kalau kau ingin tahu bagaimana perasaanku, seluruh kosakata dalam miliyaran bahasa tak mampu mendeskripsikan. Perasaan bukanlah susunan kata dan kalimat yang bisa dijelaskan dengan definisi dan arti. Perasaan adalah ruang paling dalam yang tak bisa tersentuh hanya dengan perkatan dan bualan. Aku lelah. Itulah perasaanku. Dan aku tahu, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Cepat atau lambat pepatah ini akan terjadi pada siapapun. Termasuk aku. Iya, tentu ada air mata. Tentu saja ada semilir duka. Tapi aku percaya semua ini akan terlewati. Dan kembali baik-baik saja.
Pikiran dan hati ini benar-benar merasakan kedamaian sekarang. Semua kekesalan dalam hatisudah kutulis di sebuah diary kecilku. Diary kecilku ini akan menjadi saksi sebagai sejarah hidupku.
Burung elang yang terbang di angkasa raya terlihat bebas. Tak ada kerikil yang menghalanginya untuk terbang. Dari gubug kecil ini, aku melihat ada seorang  lelaki  masih berseragam sama sepertiku yang berjalan ke arah gubug kecil ini.
“Siapa itu? Aku seperti mengenalnya.” Pikirku penasaran. Semakin dekat orang itu berjalan ke arah sini, ketakutanku semakin menjadi. Tapi, aku tetap berpikir yang positif. Dan anehnya, orang tersebut terlihat mengeluarkan sebuah buku diarynya. Suaranya yang nyaring membuat aku terdengar apa isi tulisan di dalam kertas tersebut.
“Ya, itu Brian.!!” Seruku spontan.
“Kamu mengenalkan namamu begitu saja, uluran tanganmu dan suara lembutmu berlalu tanpa pernah kuingat-ingat. Awalnya, semua berjalan sederhana. Kita bercanda, kita tertawa, dan kita membicarakan hal-hal manis. Perhatian yang mengalir darimu dan pembicara manis kala itu hanya kuanggap sebagai hal yang tak perlu dimaknai dengan luar biasa. Kehadiranmu membawa perasaan lain. Hal berbeda yang kamu tawarkan padaku turut membuka mata dan hatiku dengan lebar. Aku tak sadar, bahwa kamu datang memberi perasaan aneh. Setiap hari ada saja topik menarik yang kita bicarakan, sampai pada akhirnya kita berbicara hal paling menyentuh, cinta. Kamu bercerita tentang mantan kekasihmu dan aku bisa merasakan perasaan yang kau rasakan. Aku berusaha memahami kerinduanmu akan perhatian seorang wanita. Sebenarnya, aku sudah memberi perhatian itu tanpa kau ketahui. Mungkinkah perhatianku yang sering kuberikan tak benar-benar terasa olehmu? Apakah kau sudah menganggap aku sebagai lelaki spesial meskipun kita tak memiliki status dan kejelasan? Apakah kau sudah menganggap aku sebagai lelaki spesial meskipun kita tak memiliki status dan kejelasan? Sungguh, aku masih tak percaya segalanya bisa berjalan secepat dan sekuat ini. Aku terus meyakinkan diriku sendiri, bahwa ini bukan cinta. Ini hanya ketertarikan sesaat karena aku merasakan sesuatu yang baru dalam hadirmu. Aku berusaha mempercayai bahwa perhatianmu, candaanmu, dan caramu mengungkapkan pikiranmu adalah dasar nyata pertemanan kita. Ya, sebatas teman. Aku tak berhak mengharapkan sesuatu yang lebih.Aku tak pernah ingin mengingat kenangan sendirian. Aku juga tak ingin merasakan sakit sendirian. Tapi nyatanya, perasaanku tumbuh semakin pesat, bahkan tak lagi terkendalikan. Siapakah yang bisa mengendalikan perasaan? Siapakah yang bisa menebak perasaan cinta bisa jatuh pada orang yang tepat ataupun salah? Aku tidak sepandai dan secerdas itu. Aku hanya manusia biasa yang merasakan kenyamanan dalam hadirmu. Aku hanya lelaki yang takut kehilangan seseorang yang tak pernah aku miliki.
Salahku memang jika mengartikan tindakanmu sebagai cinta. Tapi, aku juga tak salah bukan jika berharap bahwa kau juga punya perasaan yang sama? Kau sudah jadi sebab tawa dan senyumku, aku percaya kau tak mungkin membuatku sedih dan kau tak akan jadi sebab air mataku. Aku percaya kamulah kebahagiaan baru yang akan memberiku sinar paling terang. Aku sangat memercayaimu, sangat! Dan, itulah kebodohan yang harus kusesali. Mungkin, suatu saat nanti, jika Tuhan izinkan, aku percaya kita pasti bisa saling membahagiakan.
Sesungguhnya, ini juga salahku yang bertahan dalam diam meskipun aku punya perasaan yang lebih dalam dan kuat. Ini bukan salahmu, juga bukan kesalahannya. Tapi, tak mungkin matamu terlalu buta dan hatimu terlalu cacat untuk tahu bahwa aku mencintaimu. Aku harus belajar tak peduli. Aku harus belajar memaafkan, juga merelakan.”
Aku mulai mendekati Brian yang berada 2 langkah di depan gubug. Aku sangat terharu. Ternyata selama ini kesalah pahaman terjadi pada diriku.
“Brian, apakah semua tulisan yang kau baca itu untukku?” Tanyaku sambil meneteskan air mata.
“Iya Zas, Itu semua untukmu. Itu adalah gambaran perasaanku terhadapmu. Maaf juga kalau kemarin aku menggertakmu. Aku benar-benar banyak masalah kemarin. Maaf kalau aku meluapkan semua masalah dengan menggertakmu.” Jelasnya sambil memegang tanganku.
“Iya, enggak apa-apa. Maaf juga kemarin aku sudah berpikiran buruk tentangmu. Ternyata kamu tak seburuk yang kupikirkan.” Kataku sambil menatap wajah Brian dengan perasaaan terharu.
“Aku menyukaimu Zas, tapi sebagai seorang sahabat. Aku tak ingin hanya karena cinta pertemanan kita usai. Apakah kamu masih mau menjadi sahabatku?” Kata Brian sambil menatapku penuh misteri.
“Iya, aku juga menyukaimu sebagai seorang sahabat. Aku tetap mau kok menjadi sahabatmu.” Ucapnya sambil membalas tatapan Brian dengan senyuman terharu. Persahabatan itu kadang-kadang bagaikan Tom & Jerry. Mereka mengusili satu sama lain, menyakiti satu sama lain, tapi mereka tidak bisa hidup tanpa satu sama lain.
Manusia adalah Ciptaan Tuhan yang tak bisa selamanya hidup di dunia. Segala harta, kekayaan, dan kekuasaan juga suatu hari akan berakhir masanya. Namun perasaan, hati, dan rasa kesetiaan seorang sahabat takkan pernah sirna untuk selamanya. Karena walaupun disaat sahabat kita sudah tidak ada di dunia. namun seorang sahabat sejati itu akan selalu ada di hati kita untuk selama-lamanya. Seperti Brian sahabat sejatiku.