Karya: Zulfa Nur Widowati
Sebuah
ruang kelas berbentuk persegi panjang dengan bercat dinding berwarna cream
tampak sudah dipenuhi sebagian murid sma yang sepertinya akan dimulai suatu
rapat. Sebuah pintu kelas yang berbentuk layaknya pintu kantor terbuka sangat
lebar. Kaki ini mulai berjalan mendekatinya sambil menggendong tas berwarna
merah. Suara bising murid dari ruang kelas tersebut membuat hati ini menjadi
dag dig dug.
“Apakah
rapatnya sudah dimulai?” Batinku sambil menundukkan kepala sambil berjalan karena
benar-benar takut jika sudah dimulai. Wus… angin berhembus seketika, membuat
jilbab segiempat putihku tidak rapi.
“Angin
hari ini benar-benar kencang tak seperti biasanya. Pertanda akan turun
hujankah? Langit juga tampak sedikit berubah. Ah sudahlah.” Ucapku pelan sambil
membenarkan jilbabku yang sedikit tidak rapi.
“Zaskia….Zaskia.
Mana Zaskia?”
Sebuah
suara yang mengagetkanku dari dalam kelas. Entah suara ketua organisasi atau
anggota yang lain. Aku bergegas menuju ke dalam kelas.
“Assalamualaikum.”
Ucapku sambil mengetok pintu.
“Waalaikumsalam.”
Jawab semua orang yang ada di ruangan.
“Darimana
saja kamu?” Tanya ketua organisasiku sambil melihat daftar absen di tangannya.
“Maaf
Al, saya tadi ada kerja kelompok.” Ucapku sedikit takut.
“Besok
lagi izin dulu kalau datang rapatnya telat bisa lewat sms atau titip pesan
kepada temanmu. Kamu sudah kelas xi harusnya bisa memberi contoh kepada adik
kelasmu. Satu orang membuat semua jadi korban. Kalau kamu begini terus bagaimana
hasil organisasi kedepannya nanti? Organisasi ini hanya butuh orang-orang yang
disiplin dalam segala hal, tidak lemot seperti
kamu yang sudah telat setengah jam.” Jelas Alfaro sambil memarahiku.
“Iya
Al, maaf tadi saya lupa izin karena terburu-buru harus ke rumah teman dan
kebetulan handphone saya lowbatt.
Sekali lagi saya minta maaf ya Al dan semua yang ada di ruang ini. Saya janji
tidak akan mengulanginya lagi. ” Jelasku dengan perasaan merasa bersalah.
“Terserah
apapun alasanmu. Yang saya inginkan hanya kedisiplinan. Yasudah, sana duduk di
bangku yang kosong!!” Pinta Alfaro dengan muka tak enak dipandang.
“Iya
Al, terimakasih.” Ucapku menundukkan kepala.
Di
organisasi yang aku ikuti yaitu MPK (Majelis Permusyawaratan Kelas) memiliki
aturan yang sangat ketat dan disiplin. Jadi, jika aturan tersebut dilanggar,
pasti akan terkena marah dari ketua. Dan tampaknya di pojok belakang masih ada
satu bangku yang tersisa. Lantas, aku duduk disana. Sembari melepaskan tasku,
Alfaro mulai memberikan pengarahan di depan tentang Proker terbaru yaitu aspirasi.
“Teman-teman,
sebelumnya apa teman-teman sudah ada yang memiliki konsep untuk aspirasi MPK?
Boleh angkat tangan. Jika tidak ada, saya persilahkan komisi c untuk berunding
dan menjelaskan bagaimana konsepnya nanti.”
“Wah,
aspirasi. Prokerku nih.” Batinku.
Setelah
mendapat pengarahan tentang aspirasi,
kita berkumpul dengan komisi masing-masing. Ya, di MPK ada 4 komisi yang
memiliki tugas masing-masing. Dulu, waktu kelas x aku berada di komisi c dan
sekarang pun masih setia dengan komisi c. Anggota dan proker komisi c seakan seperti bagian dari hidupku. Sayangnya,
anggota komisi c ada yang berpindah ke bidang dan komisi lain. Dan teman
dekatku pindah di komisi d. Sedih sih, tapi no
problem.
Tak
lama kemudian, koordinator komisi c dipanggil ketua untuk menghadap kepadanya.
Aku dan anggota yang lain sibuk bersenda gurau namun masih berkaitan tentang proker aspirasi.
“Eh
Zas, mau aspirasi apa nih? Paling-paling juga J-POP. Ya kan??” Canda Brian.
“Enggaklah.
Masak iya aspirasi tentang J-POP.
Jepang festival bukan aspirasi keles.
Emang kamu??” Balasku dengan candaan sengit.
“Hahaha…
jangan marah. Aku cuman bercanda kok.” Jelas Brian sambil menampakkan mukanya
yang seperti tak berdosa.
“Iya,
santai ajalah. Aku enggak ngambekan
kayak kamu ya.” Ucapku sambil menyindir.
“Hah,
emang aku ngambekan?” Tanya Brian.
“Menurutmu?
Sudahlah, aku ingin fokus dulu sama proker
komisiku. Bye…” Jelasku dengan nada kesal.
“Iya
deh, semangat ya Zas aspirasinya.” Kata Brian sambil memberiku semangat.
“Iya,
semangat kok. Apalagi sekarang nggak ada kamu. Tambah fokus dan semangat. Seperti
semangatnya para pejuang 45.” Ucapku dengan optimis.
“Hahahaha..apa
iya? okey deh kalau gitu.” Katanya cengengesan.
Andaikan
Brian tahu bahwa tanpanya aku bingung bagaimana proker aspirasi ini supaya bisa berjalan dengan baik. Aku mengakui
bahwa Brian memang pintar dalam menjalankan Proker
supaya sukses. Dan anggota komisi c sekarang, hanya aku yang masih bertahan.
Lainnya sudah pindah ke bidanglain. Tapi sudahlah, aku harus bisa mencobanya dengan
teman sekomisiku walau tanpa seorang Brian.
“Hai
guys, ayo mulai bahas proker kita
supaya bisa berjalan lancar. Lalu, apa konsep yang akan kita buat. Setelah itu,
kita presentasikan. Ayo guys semangat.” Jelas Ayu koordinator komisiku sambil
menyemangati kita.
“Siap
komandan.” Ucap komisi c serentak.
Suasana
berubah menjadi serius. Karena pembahasan proker
masing-masing komisi mulai dikerjakan. Walaupun yang paling mendekati aspirasi,
tapi bisalah dicicil.Tak heran jika raut
wajah ketua bisa tersenyum berseri-seri, tak marah-marah seperti tadi. Kuncinya
adalah semua anggota bisa bekerja dengan baik. Baru kali ini melihat Alfaro
tersenyum bahagia. Biasanya yang menghiasi raut wajahnya hanya cemberut. Aku
yang berada di pojok sudut ruangan merasa bahagia melihatnya.
Di
sisi lain, aku memperhatikan Brian yang terlihat sibuk dengan komisinya.
Maklum, dia koordinator komisi d. Brian memulai pengakraban dengan anggotanya
dan persis seperti pertama kali aku mengenalnya. aku teringat dimana ketika
kita masih satu komisi. Awalnya memang masih saling canggung, namun pada
akhirnya kecanggungan itu berubah menjadi sebuah kenyamanan layaknya seorang
sahabat. Sebuah proker yang membuat
kecanggungan perlahan menjadi hilang. Dan kebetulan proker yang dikerjakan membuatku dan Brian selalu bersama. Karena
kita selalu mendapat tugas yang sama.
“Hey
Zas, jangan melamun. Ada usulan untuk konsep aspirasi enggak?” Tanya Ayu yang
duduk disampingku.
“Ha?
Gimana yu?” Tanyaku kurang jelas.
“Makanya,
jangan suka melamun. Kamu liat ke arah komisi d kenapa sih? Liat Brian?” Tanya
Ayu balik.
“Enggak
yu. Hanya melihat kayaknya komisi d kompak.
Padahal, baru saja perekrutan
anggota. Semoga komisi c bisa seperti itu.” Jelasku sambil membayangkan.
“Iya,
Aamiin. Okey, fokus lagi yuk. Sekarang aku tanya, ada usulan untuk konsep
aspirasi enggak?”
“Kalau
menurutku, konsepnya seperti tahun kemarin saja. Hanya aspeknya yang diubah.”
Jelasku sambil menerangkan konsep apa yang harus ada.
“Okey,
makasih. Gimana teman-teman, apa kalian setuju dengan pendapat Zaskia?” Tanya
Ayu di forum.
“Setuju.”
Jawab komisi c serempak.
Aku
mengambil laptop dari tasku lantas bergegas mengetik konsep aspirasi yang telah
disetujui dan akan dipresentasikan sebentar lagi. Ketika mata ini masih menatap
laptop dan jari ini masih mengetik abjad di keyboard, tiba-tiba Alma
koordinator komisi b memanggilku dari sudut pintu.
“Zaskia…”
“Iya,
apa?” jawabku masih fokus dengan laptopku.
“Brian
nakal. Masak dia ngece aku.”
“Emang
ngece gimana?” Tanyaku yang
pandanganku tetap saja di laptop.
“Masak
dia bilang kalau aku pacarnya Ivan.”
“Ivan
yang mana sih?”
“Anak
kelas x, satu komisi dengan Brian.” Kata Alma yang sepertinya kesal. Karena aku
hanya sekilas menatap Alma, pandanganku masih fokus ke laptop.
“Oalah.
Yaudah, cuekin saja si Brian. Emang wataknya gitu, suka jail sama orang.
Hiraukan saja, biarlah dia ngece
sampai secapeknya dia. Kalau capek pasti juga berhenti.” Jelasku sembari
mengetik.
“Hey
Zas, liat aku. Jangan ke laptop terus. Istirahat bentar gitu lho, jangan terlalu
serius.” Ucap Alma kesal.
“Aduh,
apa kamu nggak liat proker komisiku
yang sebentar lagi disuruh presentasi di depan sama Alfaro. Bentar ya, aku
selesaikan pekerjaan ini. Kalau sudah, kamu boleh curhat sesuka hatimu.” Kataku
sambil menghentikan jari-jari ini mengetik.
“Okey
deh.” Ucap Alma kecewa. Sebenarnya sedih melihat Alma kecewa, tapi bagaimana
lagi sekarang ini proker lebih
penting daripada curhatan Alma.
Aku
mengintip dari balikgorden ternyata langit diluar mulai mendung. Dan hanya
tersisa beberapa motor yang tampak di parkiran. Sudah jarang siswa dan guru
yang terlihat. Hanya tersisa perkumpulan organisasi saja. Sekolah sudah tampak
sepi. Aku melihat jam dinding ternyata sudah pukul 16.30 wib. Pantas saja jika
sekolah sudah mulai sepi.
“Oke
teman-teman biar mempercepat waktu pulang, maka komisi c dipersilahkan maju
untuk menyampaikan konsep aspirasi minggu depan.” Seru Alfaro yang berdiri di
depan kelas.
“Gimana
Zas, sudah selesai kan?” Tanya Ayu sambil bersiap-siap berdiri.
“Sudah.
Yang menerangkan di depan kamu ya.” Jawabku sambil memberikan laptop kepadanya.
Ketika
Ayu mulai menerangkan di depan, pikiran ini seakan kembali ke masa lalu. Dulu,
Brian yang maju ke depan dan menjelaskan kepada semuanya dengan candaannya yang
khas. Entah mengapa, pikiran dan hati ini masih saja terbayang-bayang oleh
sosok Brian. Kepergianmu dari komisi c membuat hidup ini seperti kiamat kecil.
Kehilangan, itulah yang kurasakan saat ini. Padahal, hanya berpindah komisi
saja. Ada apa dengan diriku ini?
“Okey,
terimakasih presentasi dari saya. Kurang lebihnya mohon maaf. Wassalamualaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.” Ucap Ayu di depan kelas.
Dan
sebuah salam mengingatkanku lagi dengan Brian. Aku tidak pernah menjawab ucapan
salam darinya. Agama yang berbeda adalah penyebabnya. Walaupun begitu, dia
tetap mengucapkan salam dengan tujuan untuk saling menghormati. Jujur, aku
begitu kagum dengannya.
“Hey
Zas, makasih ya laptopnya. Nih laptopnya.” Celetuk Ayu tiba-tiba sambil
memberikan laptop.
“Oh
iya, sama-sama.” Balasku dengan senyuman sambil menerima laptop dan
memasukkannya kedalam tas.
Setelah
presentasi selesai, Alfaro sudah mengizinkan kita untuk pulang ke rumah
masing-masing. Aku pun bergegas pulang dengan sepeda motorku yang berada di
parkiran dan tak memperdulikan anggota MPK yang lain.
“Zas,
tunggu aku.” Seru Brian dari belakang.
“Cepetan,
keburu hujan.” Ucapku menunggu Brian.
“Kamu
mau ke parkiran kan?” Tanyanya sambil jalan.
“Iya.”
Balasku singkat.
“Okey,
sama kalau gitu.” Ucapnya lagi.
Kita
berjalan berdua menuju ke tempat parkir. Suasana di tempat parkir begitu gelap
karena ditutupi atap yang terbuat dari seng.
“Zas,
jangan tinggal aku. Tunggu aku.” Seru Brian dari motornya. Motor Brian berada
di paling ujung, sedangkan motorku berada dekat pintu keluar.
“Iya,
bawel amat sih. Kamu takut ya?” Cetusku sambil mengejek bercanda.
“Enggak,
aku berani. Supaya ada teman saja.” Katanya ngeles.
“Bohong.
Cepetan, nanti keburu hujan. Langitnya sudah mendung lho.” Jelasku yang sudah
bersiap menuju pintu keluar.
“Iya,
sabar dikit.” Ucapnya dengan mengendarai
motor lakinya menuju ke arahku.
“Yuk,
berangkat.” Ajakku sambil mengegas motor maticku.
Ketika
sudah di depan gerbang sekolah, kita memisahkan diri masing-masing karena arah
rumah kita berbeda. Aku ke kanan dan Brian ke kiri.
Keesokan
harinya, ketika aku memasuki ruang kelasku ada seorang temanku Melly menyeletuk.
“Cie,
yang kemarin pulangnya bareng sama Brian. Jadian ya? Pajaknya dong.”
“Ha?
Kamu ngomong apa sih? Aku enggak paham.” Ucapku kebingungan.
Aku
meninggalkan seorang temanku yang mengejekku ke bangku kosong yang berada di
pojok sudut ruangan kelasku. Baru saja aku menaruh tas, tiba-tiba ada yang
menyeletuk lagi.
“Cie..
Brian. Kamu kok enggak bilang-bilang kalau jadian sih Zas?” celetuk Cita teman
sebangkuku.
“Eh,
bentar deh. Kok kamu bisa bilang begitu? Siapa juga yang jadian, jangan ngarang
cerita.” Tanyaku penasaran.
“Aku
dan Melly kemarin lihat kamu dan Brian pulang bareng. Pokoknya kelihatan mesra
gitu.” Jelas Cita sambil mengerjakan pr matematika.
“Bentar
deh Cit, kayaknya kamu dan Melly salah paham. Aku enggak jadian. Lagipula,
pulang bareng itu gara-gara si Brian minta ditungguin. Takut katanya. Lagipula
juga kita habis rapat MPK kok. Ya apa salah?” Jelasku sambil menatap wajah Cita
yang tiba-tiba berhenti mengerjakan pr matematikanya.
“Oh
gitu, okey.” Kata Cita singkat.
“Hmmm…”
Ucapku cuek.
Entah
kenapa, perasaan hari ini begitu badmood.
Udah kemarin capek, ditambah aku dibilang jadian sama Brian. Dan baru saja
masuk kelas sudah ada 2 teman yang mengejekku “Brian, Brian” dan ditambah lagi
sekarang hampir teman-teman sekelasku baik cowok maupun cewek. Ya Tuhan, cobaan
apa lagi yang kau berikan padaku?
Hari
demi hari, ejekan yang diberikan teman sekelas kepadaku selalu saja datang.Aku
tak mengerti dimana hati nurani mereka. Hanya satu orang yang tak mengejekku.
Ya, itu adalah Tia sahabat baikku yang aku kenal dari awal sma. Aku curhat
dengannya tentang apa yang terjadi sekarang ini terhadap diriku. Dan sebuah jam
kosong hari ini, membuatku ingin curhat dengan Tia.
“Tia,
apa yang kamu lakukan ketika diejek temanmu bahwa kamu suka dan bahkan jadian
dengan teman rapatmu? Bagaimana perasaanmu?” Tanyaku dengan muka kesal.
“Kalau
aku jadi kamu, diam adalah jurus terbaik. Kalau masih kesal, sholat lalu mengaji
sama istighfar sebanyak-banyaknya. Kalau masih, kamu bisa tulis masalah yang
terjadi di diarymu dan biasanya aku teriak di tempat yang begitu luas dan sepi
seperti sawah.” Jelas Tia sambil menasehatiku.
Mendengar
nasehat dari Tia, aku mulai mencobanya. Aku bergegas menuju masjid. Ketika baru
keluar dari kelas, rupanya Brian berada di depan kelasku. Dia terlihat sibuk
dengan laptopnya. Ingin rasanya bertanya apa yang sedang dikerjakan, tapi
seorang temanku tiba-tiba menyeletuk dengan wajah tanpa berdosa.
“Brian,
Zaskia suka kamu.” Celetuk Bayu di dekat Brian. Betapa malunya diri ini yang
mendengar celetukan itu. Lantas, aku menuju ke masjid tanpa memperdulikan apa
yang telah terjadi.
Setelah
sholat, hati ini menjadi lebih tenang. Tak ada kerisauan lagi yang muncul.
Benar-benar damai layaknya seorang bayi yang tak mengerti apa itu sebuah
masalah. Setelah itu, aku kembali ke kelas. Ketika mendekati kelas, aku melihat
bahwa Brian masih duduk di bangku depan kelasku. Ingin rasanya menyapa, tapi
teman-temanku mulutnya benar-benar
seperti sempritan tukang parkir. Aku belum sampai di depan kelas saja sudah
banyak yang mengece. “Cie Brian. Dicari Zaskia lho.”
Akhirnya,
aku berusaha tak peduli dengan keberadaan Brian dan langsung masuk kelas.Ketika
mata ini memandang Brian dari pojok sudut ruang, Perasaan dalam hati ini seolah
mengatakan bahwa ada sesuatu yang aneh dengan diriku terhadap Brian.
“Pak
Guru Datang.” Teriak temanku dari luar sambil menutup pintu kelas.
“Zas,
Brianmu diluar Zas. Kamu enggak temani dia?” Tanya Bayu yang duduk didepanku.
“Enggak.”
Jawabku cuek.
Ketika
perasaan kesal sudah aku buang, sekarang muncul lagi gara-gara Bayu. Bayu
memang teman yang jahat. Tak bisa jaga mulutnya yang seperti cabe kalau
ngomong.
“Sabar
Zas.Sudah, hiraukan saja. Tidak ada gunanya menanggapi. Lagipula, kamu juga enggak
suka. Jadi, biasa saja. Setelah hujan selalu ada pelangi. Setelah luka pasti
ada bahagia. Semua akan indah pada waktunya kok Zas.” Jelas Tia yang duduknya
sebelah kiriku sambil menenangkanku.
“Anak-anak,
hari ini ulangan biologi.” Seru Pak Yusuf yang berdiri di depan.
“Yah
pak, belum siap. Lagipula, bapak memberitahunya ndadak sekali.” Kata Bayu sambil mengeles kesana kemari.
“Pokoknya
hari ini ulangan. Tidak ada alasan.” Pinta Pak Yusuf sambil membagikan soal
yang berada di tangannya.
“Baik
pak.” Jawab anak-anak kelasku serempak.
“Zas,
nanti kasih tahu jawabannya ya.” Bisik Bayu kepadaku.
“Nggak
mau.” Ujarku kesal.
“Hih,
dasar Brian.” Balasnya.
“Bisa
diam enggak sih?” Ucapku dengan nada marah.
Ketika
ulangan dimulai, suasana kelas begitu hening. Tidak ada kegaduhan sama sekali.
Yang ada hanya suara air conditioner. Pak Yusuf yang sedari tadi duduk di
depan, sekarang malah keluar entah kemana. Itu adalah kesempatan emas buat anak
yang suka mencontek, khususnya Bayu. Dan benar sekali, Bayu langsung bertanya
kepada teman di ruang kelas. Tapi, tak ada yang menjawab pertanyaan Bayu.
Ketika Pak Yusuf masuk ke kelas, Bayu langsung terdiam seperti sebuah pintu
yang sudah terkunci rapat.
Teet….Teet…Teet
Bel pulang sekolah berbunyi. Ulangan biologi langsung aku kumpulkan lantas aku
keluar dari kelas. Dan disusul temanku yang juga sudah selesai sepertiku.
Ketika sedang duduk santai di depan kelas, batang hidung Bayu tiba-tiba muncul
dan mengagetiku.
“Tumben
sudah keluar, biasanya juga terakhir sendiri.” Ucapku sedikit sengit.
“Memang
terakhir. Lagipula, sudah tidak ada orang lagi di dalam kelas.” Jelasnya sambil
melirik mata kekanan dan kekiri melihat suasana sekitar.
“Kamu
cari siapa Bay?” Tanyaku penasaran.
“Cari
Brian. Aku mau nembung biar kamu jadi
pacarnya.” Ucapnya cengengesan. Kaget bukan main mendengar penjelasan dari
Bayu. Aku langsung memarahinya dan mencegahnya untuk menemui Brian.
“Jangan
Bay!!!” Pintaku sambil memukulnya.
“Yasudah,
kalau begitu aku akan mengintrogasi
kamu. Kalau tidak, aku akan menemui Brian. Gimana?” Ucapnya lagi dengan sikap
yang menantang.
“Okey,
siap. Kamu mau mengintrogasi apa?”
Tanyaku sambil duduk di depan kelas berdua.
“Apa
hubunganmu dengan Brian?”
“Ya
Allah, kita hanya sebatas teman saja, enggak lebih. Lagipula, kita teman satu
organisasi dan pesan dari pembina jangan pernah ada yang namanya cinta lokasi
karena membuat proker organsasi tidak
berjalan dengan lancar. Jadi aku enggak mungkin pacaran.” Jelasku sambil
menatap wajahnya yang masih misterius karena penasaran hubunganku dengan Brian.
“Apakah
kamu ada rasa suka dengan Brian?” Tanyanya lagi.
“Aduh,
pertanyaanmu enggak penting dijawab. Kan tadi aku sudah jelaskan bahwa satu
organisasi tidak boleh yang namanya cinta lokasi. Sudahlah, aku mau Sholat Dhuhur
dulu.” Jelasku sedikit kesal.
“Sholat?
Aku mengimami kamu ya. Enggak mungkin kan kalau Brian yang mengimami. Brian kan
Kristen, tidak bisa jadi imam untukmu Zas. Lebih baik, suka yang seagama saja
supaya bisa mengimami kamu .” Jelas Bayu balik sambil menatapku dengan tatapan
tajam.
“Kamu
itu kenapa dari tadi protes saja?
Dibilangin hanya teman kok enggak lebih. Aku juga enggak suka dengan Brian.
Imam? Semua orang bisa ngomong gitu karena ngomong itu mudah sedangkan melakukan
itu berat. Paham enggak? Sudahlah, aku mau sholat dulu.” Jelasku marah dengan
membawa mukena merahku sambil perlahan meninggalkan Bayu di depan kelas
sendirian. Seusai sholat, aku dipanggil Tia dari lapangan basket yang tak jauh
dari masjid.
“Zaskia.”
“Iya,
ada apa ya?” Tanyaku dengan suara agak keras.
“Bisa
ke bawah sebentar enggak?” Pinta Tia.
“Oh
iya, tunggu sebentar.” Jawabku sambil memakai sepatu. Aku bergegas turun menuju
ke lapangan basket sambil membawa mukena merahku.
“Begini
Zas, aku bisa minta tolong enggak?” Tanya Tia yang sepertinya butuh bantuanku.
“Iya.
Selagi aku bisa membantu pasti aku bantu.” Ucapku sambil memegang pundak Tia.
“Hari
ini ekstrakurikulerku Basket, mau foto kalender. Kira-kira kamu bisa memfoto enggak?
Kan kamu ikut fotografer. Kamu juga di kelas ada kamera kan. Plis ya.” Pinta
Tia seperti orang memohon.
“Iya
deh. Jam berapa?” Ucapku sambil melihat jam.
“Jam
14.00 wib. Bisa kan?” Tanya Tia sambil melihat jadwal basketnya.
“Jam
segitu ya? Aku ada acara. Gimana kalau Brian? Teman fotograferku. Dia lebih
jago dalam hal memfoto daripada aku.”
“Halah.
Yaudah enggak apa-apa.” Jawab Tia sedikit kecewa.
“Maaf
banget ya. Bentar, aku telepon Brian dulu. Eh enggak diangkat. Bentar, coba aku
sms.” Ucapku sambil mencoba menelepon dan mengirim pesan.
“Okey.
Aku tunggu ya.” Ucap Tia mempercayakan kepadaku.
“Eh,
enggak dibalas smsku. Gimana kalau ke ruang organisasinya? Kamu tahu kan?”
Tanyaku dengan muka kecewa.
“Oh,
okey. Aku enggak tahu ruangannya. Nanti tanya saja.” Jelas Tia singkat.
Kita
berjalan menyusuri gedung sekolahan, hingga akhirnya bertemu dibawah pohon
beringin depan masjid.
“Brian.”
Panggilku sambil melambaikan tangan.
“Apa?”
Tanyanya sambil membawa buku agamanya.
“Tadi
kamu aku telepon enggak ngangkat, terus aku sms enggak dibales. Jadi gini,
ekstra basket putri mau foto untuk kalender. Nah, awalnya aku disuruh fotoin,
tapi aku ada acara. Aku minta tolong kamu buat memfoto tim basket putri bisa enggak?”
Tanyaku dengan penjelasan yang kiranya bisa merayu Brian.
“Aku
enggak bisa!!! Aku ada acara. Kalau kamu mau, izin dulu ke bapakku!!!” Ucapnya dengan
nada menggertak. Aku langsung terdiam menundukkan kepala karena malunya diri
ini. Dan kata-kata yang dilontarkan Brian tersebut, membuatku tiba-tiba
mengeluarkan air mata. Hati ini seakan teriris pisau yang begitu tajam. Hanya
sabar yang bisa aku lakukan sekarang ini. Karena kesabaran adalah kunci
segalanya.
Tak
biasanya Brian ngomong dengan nada menggertak seperti itu. Brian yang kukenal
bukan seperti itu. Brian yang kukenal adalah Brian yang humoris, yang lemah
lembut terhadap cewek, dan sabar. Benar jika pepatah mengatakan bahwa hati
perempuan bagaikan baja karena perempuan lebih tangguh, lebih kuat dan lebih mandiri.
Brian
lalu pergi meninggalkanku dengan Tia begitu saja. Lantas, aku menarik Tia ke
perpus untuk menenangkan diri ini sejenak. Aku tak sanggup jika nanti bertemu
Brian lagi. Emosiku mulai memuncak, namun aku berusaha untuk meredamnya dengan
istighfar.
“Tenangkan
dirimu dulu Zas. Nangis aja jika itu yang kau rasakan.” Lontar Tia
menenangkanku.
“Iya
Ti.” Ucapku lirih.
Walaupun
pikiran dan hati ini sudah mulai tenang, namun luka yang membekas di hati belum
bisa hilang. Masih tetap tergores hingga membekas. Sebuah persahabatan yang
sudah kujalin satu setengah tahun dengan Brian kandas begitu saja karena sebuah permasalahan sepele. Dan tidak hanya itu semua karena Bayu. Ya,
dia membuat semua menjadi berantakan. Persahabatan ini yang awalnya damai,
baik-baik saja berubah menjadi buruk. Hanya karena sebuah ejekan tentang
perasaan yang dilontarkan Bayu ke persahabatanku dengan Brian. Dan sekarang kandas begitu saja. Namun, Tia mengingatkanku
akan sebuah nasehat.
“Jangan pernah menyalahkan orang lain
atau menyalahkan situasi untuk ketidakberesan kita menyelesaikan tugas.
Bercerminlah pada diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain Zas. Mungkin
saja, Brian marah karena banyak persoalan yang harus digarap. Berpikiran positif aja Zas.” Jelas Tia sambil memelukku.
“Ti,
aku butuh waktu sendiri. Aku mau pergi ke sawah sebentar ya.” Kataku sambil
meneteskan air mata.
“Aku
temenin ya Zas.” Tanya Tia khawatir.
“Enggak
usah, aku baru butuh waktu sendiri.” Jawabku sambil menghapus air mata dengan
tissue yang ada di perpus.
Aku
langsung lari menuju sawah dekat sekolah dengan membawa diary kecilku. Sudah
tak memperdulikan dengan lingkungan sekitar. Di gubug ini, aku benar-benar
seorang diri. Tak ada siapapun. Sawah yang berwarna hijau membuat mata segar
kembali untuk melihat dunia fana. Udara semilir yang selalu berhembus, membuat
hati ini menjadi lebih sejuk. Pikiran panasku ini, aku tuangkan dengan teriak
dan menulis diary.
Dear Diary
Hari ini, aku
benar-benar kesal. Entah mengapa sulit rasanya untuk hidup dalam cobaan seperti
ini. Tiba-tiba dituduh bahwa aku berpacaran dengan Brian. Jujur, aku tidak ada
hubungan special dengannya. Hanya sebatas teman dekat hubungan kita tak lebih. Dan
sebenarnya, pernyataan yang aku jelaskan ke Bayu tak semuanya aku jelaskan. Secara terang-terangan, aku tak pernah bilang suka,
namun selalu kutunjukkan rasa. Entah lewat sentuhan, perhatian, dan caraku
membangun percakapan dengan Brian. Aku menyukainya. Terlalu menyukainya.
Sampai-sampai aku tak sadar bahwa kedekatan kita semakin tak terkendalikan,
meskipun semua singkat, tapi rasanya suka begitu terburu-buru mengetuk pintu
hatiku. Dan perasaan ini sangat dalam sehingga aku memilih untuk memendam.
Indah memang, suka mengubah segala yang hitam putih menjadi
warna-warni. Tumpukan kebahagiaan semakin sempurna. Namun, ada yang
mengganjal kesukaanku padanya. Agama. Agamaku dengan Brian yang membuatku
sedikit janggal untuk menyukainya. Jatuh cinta yang beda agama itu rasanya
sakit. Dan beberapa hari ini, aku tak pernah menyapanya ketika bertemu. Hanya
diam dan lewat begitu saja yang aku lakukan. Apakah kau tahu bahwa aku
merindukanmu? Aku rindu kau menungguku di luar masjid ketika aku sholat, aku
rindu menunggumu di depan gereja seusai misa pagi, aku rindu tertawa bersama, makan
mie ayam bersama, dan nonton festival bersama. Sungguh, aku sangat merindukan
semua itu. Setiap detik tanpa hadirnya kau, rasanya separuh hidupku hilang.
Tapi, aku hanyalah seorang teman wanita yang tak berdaya. Yang tak bisa
mengubah agamamu menjadi muslim. Aku mengenalmu sebagai sosok yang
sangat gigih. Kamu juga mengenalku sebagai sosok yang tegar. Selama kita
bersama, tidak pernah terlihat air mata kita jatuh setitikpun. Tapi... ternyata
pada akhirnya aku menyerah, menyerah pada takdir yang awalnya mempertemukan
kita juga yang memisahkan kita. Hatiku patah. sayap-sayapku yang dulu sempat
memelukmu juga patah. Apakah ada tangis
yang luruh dari matamu yang indah? Aku tak tahu mengapa sekarang kau berbeda.
Kau bukan Brian yang kukenali.
Dulu perkenalanku
denganmu begitu pahit tak seperti yang kubayangkan. Kadang aku tak memahami
tentang sebuah perkenalan. Perkenalan yang sederhana namun mampu membawa ku
kedalam masalah yang rumit. Entah darimana asalnya, rasa yang aneh mulai muncul.
Semenjak rasa itu ada, tak ku sadari telah mengubahku menjadi sosok yang
posesif terhadapmu. Aku yang tadinya biasa saja, aku yang tak menganggap
kehadiranmu ada. Berubah menjadi aku yang sangat luar biasa terhadapmu. Aku
yang selalu menginginkan kehadiranmu. Tak sampai disitu, aku seperti tak lagi
mengenali diriku sendiri. Harus ku akui kau mulai mengubah diriku yang dulu,
bahkan kau juga telah mampu melelehkan hatiku. Aku tak mengerti dengan
semuanya, yang aku tau sekarang aku sangat takut kehilanganmu. Tuhan,
jika aku bisa langsung meminta pada Tuhan, aku tak ingin perkenalan kita
terjadi. Aku tak ingin mendengar suaramu ketika menyebutkan nama. Aku tak ingin
membaca pesan singkatmu yang lugu tapi manis. Sungguh, aku tak ingin segala hal
manis itu terjadi jika pada akhirnya kamu menghempaskan aku sekeji ini.
Kalau kau ingin tahu bagaimana perasaanku, seluruh kosakata
dalam miliyaran bahasa tak mampu mendeskripsikan. Perasaan bukanlah susunan
kata dan kalimat yang bisa dijelaskan dengan definisi dan arti. Perasaan adalah
ruang paling dalam yang tak bisa tersentuh hanya dengan perkatan dan bualan.
Aku lelah. Itulah perasaanku. Dan
aku tahu, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Cepat atau lambat pepatah ini
akan terjadi pada siapapun. Termasuk aku. Iya, tentu ada air mata. Tentu saja
ada semilir duka. Tapi aku percaya semua ini akan terlewati. Dan kembali
baik-baik saja.
Pikiran
dan hati ini benar-benar merasakan kedamaian sekarang. Semua kekesalan dalam
hatisudah kutulis di sebuah diary kecilku. Diary kecilku ini akan menjadi saksi
sebagai sejarah hidupku.
Burung
elang yang terbang di angkasa raya terlihat bebas. Tak ada kerikil yang
menghalanginya untuk terbang. Dari gubug kecil ini, aku melihat ada seorang lelaki masih berseragam sama sepertiku yang berjalan
ke arah gubug kecil ini.
“Siapa
itu? Aku seperti mengenalnya.” Pikirku penasaran. Semakin dekat orang itu
berjalan ke arah sini, ketakutanku semakin menjadi. Tapi, aku tetap berpikir
yang positif. Dan anehnya, orang tersebut terlihat mengeluarkan sebuah buku
diarynya. Suaranya yang nyaring membuat aku terdengar apa isi tulisan di dalam
kertas tersebut.
“Ya,
itu Brian.!!” Seruku spontan.
“Kamu mengenalkan namamu begitu
saja, uluran tanganmu dan suara lembutmu berlalu tanpa pernah kuingat-ingat.
Awalnya, semua berjalan sederhana. Kita bercanda, kita tertawa, dan kita
membicarakan hal-hal manis. Perhatian yang mengalir darimu dan pembicara manis
kala itu hanya kuanggap sebagai hal yang tak perlu dimaknai dengan luar biasa. Kehadiranmu
membawa perasaan lain. Hal berbeda yang kamu tawarkan padaku turut membuka mata
dan hatiku dengan lebar. Aku tak sadar, bahwa kamu datang memberi perasaan
aneh. Setiap hari ada saja topik menarik yang kita bicarakan, sampai pada
akhirnya kita berbicara hal paling menyentuh, cinta. Kamu bercerita tentang
mantan kekasihmu dan aku bisa merasakan perasaan yang kau rasakan. Aku berusaha
memahami kerinduanmu akan perhatian seorang wanita. Sebenarnya, aku sudah
memberi perhatian itu tanpa kau ketahui. Mungkinkah perhatianku yang sering
kuberikan tak benar-benar terasa olehmu? Apakah kau sudah menganggap aku sebagai
lelaki spesial meskipun kita tak memiliki status dan kejelasan? Apakah kau sudah
menganggap aku sebagai lelaki spesial meskipun kita tak memiliki status dan kejelasan?
Sungguh, aku masih tak percaya segalanya bisa berjalan secepat dan sekuat ini.
Aku terus meyakinkan diriku sendiri, bahwa ini bukan cinta. Ini hanya
ketertarikan sesaat karena aku merasakan sesuatu yang baru dalam hadirmu. Aku
berusaha mempercayai bahwa perhatianmu, candaanmu, dan caramu mengungkapkan
pikiranmu adalah dasar nyata pertemanan kita. Ya, sebatas teman. Aku tak berhak
mengharapkan sesuatu yang lebih.Aku tak pernah ingin mengingat kenangan
sendirian. Aku juga tak ingin merasakan sakit sendirian. Tapi nyatanya, perasaanku tumbuh semakin pesat, bahkan tak lagi
terkendalikan. Siapakah yang bisa mengendalikan perasaan? Siapakah yang bisa
menebak perasaan cinta bisa jatuh pada orang yang tepat ataupun salah? Aku
tidak sepandai dan secerdas itu. Aku hanya manusia biasa yang merasakan
kenyamanan dalam hadirmu. Aku hanya lelaki yang takut kehilangan seseorang yang
tak pernah aku miliki.
Salahku memang jika mengartikan
tindakanmu sebagai cinta. Tapi, aku juga tak salah bukan jika berharap bahwa
kau juga punya perasaan yang sama? Kau sudah jadi sebab tawa dan senyumku, aku
percaya kau tak mungkin membuatku sedih dan kau tak akan jadi sebab air mataku.
Aku percaya kamulah kebahagiaan baru yang akan memberiku sinar paling terang.
Aku sangat memercayaimu, sangat! Dan, itulah kebodohan yang harus kusesali. Mungkin,
suatu saat nanti, jika Tuhan izinkan, aku percaya kita pasti bisa saling
membahagiakan.
Sesungguhnya, ini juga salahku yang
bertahan dalam diam meskipun aku punya perasaan yang lebih dalam dan kuat. Ini
bukan salahmu, juga bukan kesalahannya. Tapi, tak mungkin matamu terlalu buta
dan hatimu terlalu cacat untuk tahu bahwa aku mencintaimu. Aku harus belajar
tak peduli. Aku harus belajar memaafkan, juga merelakan.”
Aku mulai mendekati Brian yang berada
2 langkah di depan gubug. Aku sangat terharu. Ternyata selama ini kesalah
pahaman terjadi pada diriku.
“Brian, apakah semua tulisan yang
kau baca itu untukku?” Tanyaku sambil meneteskan air mata.
“Iya Zas, Itu semua untukmu. Itu
adalah gambaran perasaanku terhadapmu. Maaf juga kalau kemarin aku
menggertakmu. Aku benar-benar banyak masalah kemarin. Maaf kalau aku meluapkan
semua masalah dengan menggertakmu.” Jelasnya sambil memegang tanganku.
“Iya, enggak apa-apa. Maaf juga
kemarin aku sudah berpikiran buruk tentangmu. Ternyata kamu tak seburuk yang
kupikirkan.” Kataku sambil menatap wajah Brian dengan perasaaan terharu.
“Aku menyukaimu Zas, tapi sebagai
seorang sahabat. Aku tak ingin hanya karena cinta pertemanan kita usai. Apakah
kamu masih mau menjadi sahabatku?” Kata Brian sambil menatapku penuh misteri.
“Iya, aku juga menyukaimu sebagai
seorang sahabat. Aku tetap mau kok menjadi sahabatmu.” Ucapnya sambil membalas
tatapan Brian dengan senyuman terharu. Persahabatan
itu kadang-kadang bagaikan Tom & Jerry. Mereka mengusili satu sama lain,
menyakiti satu sama lain, tapi mereka tidak bisa hidup tanpa satu sama lain.
Manusia adalah Ciptaan Tuhan yang tak bisa selamanya
hidup di dunia. Segala harta, kekayaan, dan kekuasaan juga suatu hari akan berakhir
masanya. Namun perasaan, hati, dan rasa kesetiaan seorang sahabat takkan pernah
sirna untuk selamanya. Karena walaupun disaat sahabat kita sudah tidak ada di
dunia. namun seorang sahabat sejati itu akan selalu ada di hati kita untuk
selama-lamanya. Seperti Brian sahabat sejatiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar